Arus Laut dan Sampah Plastik Hasilkan Energi

Jumat, 2 November 2012 | Oleh
Share :
Dari 17.405 pulau yang ada di Indonesia, ada banyak pulau kecil yang tidak teraliri listrik. Salah satunya Halmahera Timur. "Halmahera Timur adalah salah satu daerah pesisir yang kekurangan listrik dan gelombang laut di sana ketinggiannya mencapai 3-7 meter. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan kerusakan pantai," ungkap M. Luqmanul Hakim (Luqi) mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan ini. Dari permasalahan ini, Luqman justru melihat potensi energi arus laut yang dapat diubah menjadi pembangkit listrik. Dalam karya tulisnya yang berjudul "Floater Power (Floating Breakwater Power Plant), Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut pada Breakwater Apung Berbasis Perlindungan Pantai di Kepulauan Halmahera Timur", Luqi membuat Floater Power sebagai pemecah gelombang yang mampu mengubah arus laut menjadi listrik. "Floater Power memiliki kelebihan dibanding pembangkit listrik lainnya. Terdapat konsistensi dalam menghasilkan listrik yang disebabkan keadaan arus laut yang cenderung konstan dan stabil," jelas Luqman sambil menunjukkan prototype Floater Power kepada dewan juri. Berbeda dengan Luqman yang terinspirasi dari laut, Rico Andrian William (Universitas Tanjungpura) justru melihat sampah yang menumpuk di Pontianak sebagai suatu permasalahan. Ia memanfaatkan sampah tersebut menjadi bahan bakar, yakni bensin. "Selain dapat menimbulkan berbagai penyakit, sampah yang semakin banyak bisa menyebabkan pencemaran tanah. Untuk itu, saya mencoba mengolah sampah plastik dan kaca ini untuk menjadi bensin," terang Rico. Dari presentasinya ini, Rico mendapat berbagai masukan dari dewan juri. Seperti saran dari Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman, M. Rur. Sc yang mempertanyakan cara penerapan gagasan ini serta cara pengelolaannya jika gagasan ini sudah terwujud. "Saya kira masih perlu banyak perbaikan dari gagasan yang Anda buat ini seperti permasalahan cara mengelola ide ini jika suatu hari Anda wujudkan," ungkap Ronny.
Share :