Lebih dari 500 orang memadati Graha Sanusi di Universitas Padjajaran, Bandung untuk mengikuti tes seleksi Beswan Djarum 2013. Kelima ratus peserta ini berasal dari Universitas Padjajaran, Universitas Jendral Achmad Yani, dan Institut Teknologi Bandung. Mereka mengaku siap melakukan yang terbaik untuk dapat lolos menjadi Beswan Djarum. Mulai dari persiapan fisik hingga mental telah dimaksimalkan.
Simak saja cerita Rani Apriliani dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Jendral Achmad Yani. Rani yang mengaku sering menghadapi soal sejenis Tes Potensi Akademik, tetap mempersiapkan diri. Terutama pada bagian berhitung. “Tak cuma menguras pikiran, kondisi fisik juga cukup capek. Soalnya tes ini dilakukan seharian penuh. Saya harus siap dari pagi banget dan ikut semua kegiatan seleksi hingga sore hari,” papar Rani. Beruntung, usahanya ternyata berbuah bahagia karena lolos menuju tes tahap berikutnya. “Semua usaha tak sia-sia. Saya tinggal mempersiapkan diri untuk tahap selanjutnya. Yang penting percaya diri,” ujar Rani yang bahkan sudah siap mengikuti tes sejak pagi buta.
Lain lagi cerita Ionia, peserta dari jurusan Sastra Jerman Universitas Padjajaran yang gagal mewujudkan keinginannya mendapat soft skill dan membanggakan orangtua. Ia tak lolos ke tahap wawancara. “Tes ini jadi sebuah pelajaran berharga bagi saya. Saya iklas meski gagal. Tambah lagi rasa lelah setelah ikut tes sudah terbayarkan oleh penampilan Sarasvati,” ujar Ionia. Kehadiran grup musik Sarasvati yang dimotori oleh Risa Saraswati, menjadi obat tersendiri bagi peserta usai mengikuti proses seleksi yang panjang. Menjadi penawar kesedihan bagi mereka yang tidak lolos ke tahap selanjutnya. Malahati, peserta dari jurusan Manajemen Universitas Padjajaran mengungkapkan bahwa ia bisa memaklumi mengapa dirinya gagal. Malahati menyadari kompetisi ini sangatlah ketat, karena harus bersaing dengan ratusan peserta yang kemampuan otaknya tak bisa diremehkan. “Saya tahu kalau seleksi ini sulit tapi saya tetap mau mencoba. Ternyata memang tak mudah untuk diterima jadi Beswan Djarum,” imbuh Malahati.
Bersaing dengan ratusan peserta dengan kemampuan di atas rata-rata merupakan hal yang tak mudah. Esti Sekar Aghnia dari jurusan Teknologi Pangan Universitas Padjajaran merasa bangga berhasil lolos ke tahap interview. Ia sama sekali tak menyangka namanya tercantum sebagai peserta yang lolos. “Apalagi melihat banyaknya saingan, baik dari teman sekampus maupun luar kampus. Di antara mereka banyak juga teman-teman satu jurusan. Yang paling bikin minder adalah IPK saya paling kecil diantara mereka,” ungkap Esti. Di tahap interview pun mereka akan diseleksi kembali. Sebab tak hanya kecerdasan otak yang menjadi patokan seseorang terpilih menjadi Beswan Djarum. “Kini saya tahu kalau menjadi Beswan Djarum itu tak mudah. Wajar merasa bangga jika terpilih nanti,” imbuh Esti.