Tidak bisa dipungkiri bahwa peran laki-laki dan perempuan masih saja dibedakan di era saat ini, misalnya untuk sebuah profesi guru. Ketika duduk di bangku sekolah, Beswan Djarum tentu saja memiliki pengalaman yang berbeda terhadap guru laki-laki dan perempuan. Perbedaan karakter gender yang diyakini oleh masyarakat tentu saja dapat mempengaruhi pendapat mereka.
Topik “Profesi Guru lebih Cocok bagi Perempuan” memang sederhana, namun justru di sinilah Beswan Djarum ditantang untuk melakukan analisis yang mendalam. “Guru pada dasarnya adalah orang tua kedua. Orang tua itu mewakili figur ayah dan ibu. Maka dari itu, guru laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang seimbang. Tidak bisa kita mengatakan salah satunya lebih baik,” ujar Whip dari tim Kontra. Ketika berwacana tentang gender, para pembicara sebenarnya bisa mengeksplorasi argumentasi dengan mengulas kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. “Pembicara banyak berargumentasi tentang perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum saja. Misalnya laki-laki cenderung rasional dan perempuan cenderung emosional,” komentar salah satu dewan juri.
Akses terhadap media dan berpikir lebih kritis terhadap berita yang disampaikan, dapat membantu membangun argumentasi dalam debat. Sehingga sebagai kalangan intelektual, mahasiswa mampu memberikan penjelasan yang melebihi konsep yang diketahui masyarakat pada umumnya.