Belajar Toleransi Agama di Menara Kudus

Selasa, 20 November 2012 | Oleh
Share :

Menara Kudus menjadi tempat yang harus dikunjungi ketika berkunjung ke kota santri ini. Berdiri pada tahun 1549 Masehi, Menara Kudus merupakan simbol akulturasi budaya dua agama, Islam dan Hindu.

Saat memprakarsai pembangunan masjid ini, Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan, atau dikenal dengan Sunan Kudus, ingin melakukan adaptasi ajaran Islam terhadap budaya yang sudah mapan. Saat itu, Hindu sudah jauh lebih lama masuk dan dikenal oleh masyarakat Kudus. Karenanya, bentuk menara dibuat seperti Pura.

Pada Senin, 19 November 2012, Beswan Djarum angkatan 28 mendapat kesempatan mengunjungi bangunan bersejarah ini. Berkeliling melihat setiap sudut, Beswan Djarum tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka pada bangunan ini. Devi salah satunya.

Beswan Djarum bernama lengkap Irrienia Devi mengaku ini merupakan kunjungan pertamanya ke Menara Kudus.

Karena berkuliah di Jurusan Arsitektur, hal yang menjadi perhatian utama dalam kunjungan ke Menara Kudus adalah arsitektur bangunan ini. "Tadi aku dengar batu bata di sini direkatkan tanpa semen. Terus pas di dalem, aku tanya ke penjaga masjid. Ternyata yang dipakai adalah putih telur."

Ditambahkan dara cantik ini, akulturasi budaya di Menara Kudus sudah dapat dilihat ketika memasuki gerbang. "Bentuk gerbangnya mirip Pura."

Devi sebelumnya telah mengunjungi beberapa masjid, seperti Masjid Sunan Ampel dan Masjid Agung Jawa Tengah. Dia mengagumi arsitektur masjid-masjid yang telah dikunjunginya tersebut.

Terlebih, di kampus, dia diharuskan untuk bisa merancang beragam bangunan tanpa memandang budaya, agama, atau apapun. Devi pun lalu merujuk pada Masjid Istiqlal, Jakarta. "Kalau tidak salah yang merancang Masjid Istiqlal bukan orang Islam. Itu, kan, bagus banget. Semua umat bisa saling menghargai," tutupnya.

Share :