Berkenalan dengan Budaya Papua

Senin, 19 November 2012 | Oleh
Share :
Papua, provinsi timur di Indonesia. Bukan hanya dianugerahi alam yang kaya dan indah, Papua juga memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Dari sekitar 300 suku yang ada di Indonesia, 250-an di antaranya berada di sini. Setiap suku tersebut memiliki budaya masing-masing. Dan pada Malam Dharma Puruhita, akan ditampilkan sebagian dari keragaman budaya yang dimiliki Papua. Lalu, apa yang diketahui Beswan Djarum mengenai Papua? "Jauh," begitu jawaban pertama Nadiatul Khair ketika ditanya mengenai Papua. Walau begitu, bukan berarti mahasiswi Universitas Riau ini tidak kenal dengan budaya Papua. Nadia, begitu biasa dia disapa, mengaku sudah beberapa kali berkenalan dengan orang-orang Papua. "Aku, tuh, kayak ditakdirkan selalu bertemu teman dari Papua. Di setiap acara yang aku ikuti, selalu sekamar dengan mereka. Sekarang (Nation Building-red.) pun aku sekamar dengan teman dari Papua." Nadia pun mengaku sangat semangat dalam mengikuti Nation Building yang mengangkat "Mutiara Timur Indonesia" ini. "Ada banyak kebudayaan Papua yang bisa dipelajari di sini, selain tentunya menambah teman dari Papua," ujar gadis yang memiliki hobi menyanyi dan membaca puisi ini. Sementara, Arif Kurniawan, Beswan Djarum asal Universitas Diponegoro, menyambut baik diangkatnya "Mutiara Timur Indonesia" pada Nation Building kali ini. “Acara seperti ini sangat bagus karena menunjukkan penghargaan kepada teman-teman dari Indonesia timur, terutama Papua.” Walau belum pernah mengunjungi pulau yang terkenal dengan burung Cendrawasih ini, Arif mengaku tidak asing dengan kebudayaan Papua, seperti ukir-ukiran suku Asmat, koteka, serta berbagai tari dari Papua. Bahkan, ketika ditanya mengenai batik Papua, mahasiswa Jurusan Administrasi ini memberikan penjelasan cukup lengkap. "Motif batik Papua biasanya burung Cendrawasih, ukir-ukiran Asmat. Warnanya cerah. Kalau dari tehnik pembuatan, tidak jauh berbeda dengan batik Jawa. Karena, kalau tidak salah, yang mengembangkan batik Papua berasal dari Pekalongan." Tak lupa, Arif mengingatkan agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman dalam pengangkatan budaya Papua dalam acara ini. "Tari-tari dari setiap daerah memiliki nilai tersendiri, bahkan ada yang disakralkan. Jangan sampai niat baik untuk menghargai kebudayaan Papua malah membuat masyarakat Papua merasa tersinggung karena kebudayaan mereka tidak dibawakan sebagaimana mestinya."
Share :