Bhineka Tunggal Ika RTC Medan

Rabu, 6 Juni 2012 | Oleh
Share :
Kota Medan, Ibukota Provinsi Sumatera Utara ini menjadi kota terakhir dari seluruh penyelenggaraan Road To Campus Personal Branding Beswan Djarum 2012. Kota yang menjadi pusat perdangan di Pulau Sumatera tersebut sejak awal telah dikenal sebagai kota yang memiliki keragaman suku dan agama. Pluralisme budaya masyarakat setempat memiliki nilai-nilai yang menjadi kekuatan dalam menjaga kerukunan bermasyarakat. Kemajemukan itu kita jumpai juga pada peserta RTC Personal Branding yang digelar di gedung Peradilan Semu, Universitas Sumatera Utara, Selasa (29/5). 100 peserta yang menghadiri RTC tersebut tidak datang dari latar belakang budaya dan agama yang sama. Tidak ada kata "mayoritas" maupun "minoritas" dalam kamus mereka. Namun, rasa kebersamaan terasa sangat kental dan hangat. Febrina Sumardy, peserta RTC bersuku tionghoa tersebut mengaku bahwa dengan keberagaman suku dan agama tersebutlah, kota Medan dikenal sebagai kota multi etnis yang rukun dan menjadi keistimewaan kota yang didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi. "Kota Medan itu kota multi etnis yang paling teraman di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Inilah yang menjadikannya istimewa," ujar mahasiswi Fakultas Hukum USU tersebut. Senada dengan Febrina, Nicho Adhi Tarigan, mahasiswa jrurusan Administrasi Bisnis tersebut juga melontarkan hal yang sama. Bahkan ia berani mengatakan agar pemerintah Indonesia belajar dari masyarakat kota Medan bagaimana menjaga kerukunan dan kedamaian dengan masyarakat yang multikultur. "Toleransi terhadap keberagaman di kota Medan sangat tinggi, mungkin Pemerintah Pusat perlu belajar dari masyarakat kota Medan, bahkan studi penelitian di kampus USU sebagai pembelajaran menjaga keberagaman Indonesia," tuturnya. Komentar atau pendapat kedua peserta tersebut memang sangat beralasan, ini juga terlihat dari suasana RTC Personal Branding di kampus USU yang sangat meriah dan kondusif. Bahkan, jika dilihat secara fisik, ada peserta yang memiliki ciri fisik oriental, namun disampingnya terlihat mahasiswi berjilbab, ketika menoleh lagi, terlihat personal dengan ciri fisik blasteran. Keragaman suku, tarian daerah, alat musik, nyanyian, makanan, bangunan fisik, dan sebagainya, justru memberikan kontribusi besar bagi masyarakat untuk saling menghargai dan bertoleransi satu dengan yang lainnya. Inilah atmosfer Bhineka Tunggal Ika yang  terjadi pada RTC Kota Medan. (Irwan/Redaksi)
Share :