Demam Panggung di Writing Competition Semarang

Jumat, 20 September 2013 | Oleh
Share :

Keringat mengucur di pipi kiri dan kanan Yustian Suharto sehingga Beswan Djarum asal Universitas Diponegoro ini beberapa kali terpaksa menyeka mukanya dengan tangan kosong. Suara Yustian yang awalnya tenang makin lama berubah terbata-bata. Inilah efek panik yang dialami Yustian ketika membawakan presentasi di final Writing Competition 2013 di Semarang. Kala itu Yustian membawakan presentasi yang sarat akan gambar. Ia merasa kalau waktunya tak cukup untuk menjelaskan semua gambar tersebut kepada hadirin. Apalagi ketika latihan presentasi catatan waktunya selalu mendekati 15 menit. Alih-alih tenang atau mempercepat tempo, Yustian malah gugup dan panik. “Apalagi mic saya sempat bermasalah di awal. Makin jadi deh gugupnya,” ujar Yustian sesaat setelah tampil di final Regional Semarang. Serangan gugup tak hanya melanda Yustian. Beberapa peserta lain juga merasakan hal yang serupa. Bahkan Muhammad Ali Akbar dari Universitas Diponegoro juga mengaku mengalami hal yang sama. “Rasanya deg-degan. Apalagi ketika ditanya oleh juri,” ujar Ali. Perlu diketahui, penampilan peserta ketika membawakan peserta turut mempengaruhi penilaian para juri. Untuk itu para peserta harus bisa mengatasi rasa gugup, apalagi panik, ketika membawakan presentasi. Shinta Andi Sarasati dari Universitas Sebelas Maret Surakarta turut mengalami serangan gugup. Tapi ia punya cara sendiri untuk mengatasi rasa gugup. “Biarkan presentasinya mengalir saja. Kalau terlalu dipikirkan soal ini itu malah jadi beban. Hasilnya jadi tambah gugup,” ungkap Shinta.

Share :