Bagaimana sih rasanya memindahkan air dari kolam ke ember kosong menggunakan jeriken berlubang? Tak hanya itu, tantangan lainnya adalah area yang menjadi akses utama menuju ember begitu penuh dengan lumpur. Seru! Kerjasama regu dan strategi kembali dibutuhkan dalam permainan Emergency Water ini. Tak mudah untuk membawa jeriken berlubang berisi air tersebut, area berlumpur mengakibatkan banyak anggota regu terjatuh ketika memulai permainan ini. Mengatur strategi pun dilakukan regu 8 putri demi meraih 2 pita merah untuk target mereka.
Beberapa kali terjatuh, membuat Chaterina Yuliana (Beswan Djarum asal Institut Teknologi Bandung) dan kawan-kawannya membagi regu dalam 3 bagian. Ada yang bertugas mengisi air kolam ke dalam jeriken, beberapa anggota regu yang membawa jeriken berlubang, serta penunjuk arah. Chaterina dan 2 orang teman lainnya mengatur arah pada tanah yang bisa dilewati. Ia kemudian memetik daun-daun yang ada disekitar dan meletakkannya di tanah. Fungsinya adalah sebagai tanda arah mana yang akan dilewati tim pembawa jeriken. Alhasil, anggota yang terjatuh di area ini pun berkurang. Belajar dari pengalaman, regu 8 pun puas dengan hasil yang mereka dapatkan. Sekali lagi Beswan Djarum belajar tentang arti kesetaraan, kepekaan, rasa peduli, dan memahami kemampuan diri. Belajar pula tentang kontrol emosi dan manajemen waktu dalam menyelesaikan suatu tantangan. Terlalu lama berdiskusi tanpa realisasi justru akan menghambat kita untuk mencapai target. Rela jatuh bangun demi hasil maksimal!