Sebanyak 960 peserta seleksi Tes Potensi Akademik (TPA) dan wawancara Djarum Beasiswa Plus hadir di GOR Jatidiri Semarang. Mereka berasal dari 7 Universitas antara lain Universitas Diponegoro, Universitas Katolik Soegijapranoto, Universitas Negeri Semarang, Universitas Dian Nuswantoro, Politeknik Negeri Semarang, Universitas Kristen Satya Wacana, dan IAIN Walisongo.
Bukan perkara mudah ketika ratusan mahasiswa berprestasi ini duduk dalam satu ruangan untuk memaksimalkan upayanya menjadi calon Beswan Djarum. Mereka akan bersaing sehat untuk dapat lolos ke tahap selanjutnya dengan membuktikan kemampuan terbaik dalam TPA. Tes berlangsung selama 3 jam penuh dan akan menjadi penentuan bagi pendaftar untuk lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak.
Tepat pukul 12.30 WIB, daftar nama peserta lolos seleksi TPA dibacakan satu per satu oleh panitia. Suasana GOR Jatidiri Semarang pun kian ramai dihiasi riuh rendah suara tepuk tangan. Ada yang harus gugur dan juga berbahagia karena lanjut ke tahap yang lebih jauh.
Christian Raditya Widianto dari Universitas Kristen Satya Wacana pun awalnya tidak membayangkan dapat lolos ke tahapan seleksi ketiga. "Sebenernya jadi tidak terlalu berharap karena pesaingnya pasti hebat-hebat semua namun saya tetap berusaha. Mulai dari melengkapi persyaratan administrasi, dinyatakan lolos, hingga dapat bergabung hari ini untuk lanjut ke tahap seleksi berikutnya. Rasanya terbayar setiap usaha yang telah diberikan apalagi tadi pagi harus berangkat lebih awal dari Salatiga menuju Semarang."
Begitu halnya dengan para pendaftar yang dinyatakan gugur di TPA. Ada yang pulang dengan raut wajah kecewa, namun banyak pula yang mengambil sisi terbaik dari setiap kegagalan.
"Seneng banget bisa lolos di tahap seleksi administrasi dan sampai disini. Meski tidak lolos ke tahap selanjutnya, namun saya bisa mengetahui bahwa ternyata dari sekian banyak peserta ini memang benar-benar diseleksi secara tepat oleh panitia. Justru momen ini merupakan langkah awal bagi saya untuk mengkoreski diri supaya ke depannya dapat lebih baik lagi", ungkap Rina Agustina dari Universitas Diponegoro.
Seperti halnya yang diungkapkan Juwita Hastuti tentang seleksi Djarum Beasiswa Plus. Gadis ini begitu terkesan dengan seleksi yang diberikan karena menjadi pengalaman pertama baginya untuk berjuang dapatkan tiket ke tahap selanjutnya. "Meskipun tidak lolos tapi hari ini menjadi bekal pembelajaran bagi saya untuk lebih prepare dalam mengikuti setiap tes. Benar-benar jadi pengalaman untuk ikuti tes tes lain diluar sana. Salut untuk panitia."
Jadi, tidak ada kata gagal dalam hidup. Yang ada hanyalah bagaimana cara kita memandang suatu kegagalan menjadi sebuah pelajaran besar dalam proses pendewasaan diri. Mengambil sisi positif serta meninggalkan yang merugi. Mempersiapkan diri untuk hari yang lebih baik lagi. Terus berjuang yuk jadi generasi gemilang!