Pria keturunan NTT yang tinggal di Jogja, Agustinus maju sebagai finalis kesembilan yang melakukan presentasi di depan dewan juri. Agustinus berasal dari Universitas Sanata Dharma dan akan melakukan presentasi mengenai Kultur Kemiskinan dan Upaya Pengentasannya: Studi Kasus NTT. Dengan mengambil kasus di tanah leluhurnya, Agustinus mendapat sedikit pujian dari dewan juri karena dianggap masih memperhatikan tanah leluhurnya.
Lebih lanjut, dia membahas tentang budaya di NTT yang menghambat kemajuan dan suka berpesta. Maka dari judul karya tulis yang dia tuliskan ada kata-kata "Kultur Kemiskinan". Ia menganggap, budaya tersebut harus dirubah dengan budaya yang lebih mengarah kepada kepentingan kesejahteraan rakyat tersebut. Ini menimbulkan perdebatan yang seru antara dewan juri dan Agustinus, karena masing-masing berusaha mempertahankan pendapatnya. Sayang waktu 15 menit berjalan terlalu cepat sehingga harus segera diakhiri.
Adalah Putri Aninditaningtyas yang menjadi finalis terakhir yang akan mempresentasikan karya tulisnya yang berjudul "Pengembangan Diversifikasi Pangan Melalui Modal Sosial Dan Kearifan Lokal Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan Menuju Ketahanan Pangan Nasional". Mahasiswi dari Universitas Gajah Mada ini mempunyai mimpi jika suatu saat daerah-daerah di Indonesia dapat mengembangkan komoditi khas mereka.
Dengan harapan ketahanan pangan nasional dapat terwujud, sehingga kita bisa mengurangi import makanan dari negara lain. Tapi juri sempat mempertanyakan mengapa setiap daerah harus mengembangkan satu komoditi yang menjadi khas mereka dan juga turut mengkonsumsinya? Karena dengan demikian pilihan atau variasi makanan juga nilai gizi yang didapat kurang lengkap. Walau bagaimanapun juga, kepedulian Putri terhadap ketahanan pangan nasional patut di apresiasi.[jo/redaksi]