Kritik dan Pujian Rosianna Silalahi

Jumat, 2 November 2012 | Oleh
Share :
Tegang dan takut. Itulah yang sempat dirasakan oleh salah satu finalis Nasional Writing Competition 2012, Rendi Satria, saat melakukan presentasi mengenai batik Indonesia. Ketika tampil, materi yang dibawakan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana ini menuai kritik salah satu dewan juri, Rosianna Silalahi. Kritik tersebut terkait perbedaan batik dengan kain bermotif batik yang mana bahkan masyarakat awam-pun tidak banyak yang sadar bahwa dua hal tersebut jauh berbeda. Batik identik dengan detail proses yang panjang, karena itu memiliki nilai historis yang sebanding dengan harganya. Jauh berbeda dengan kain bermotif atau bercorak seperti batik, dan banyak dijual saat ini. Rendi yang mendapat giliran kelima dalam melakukan presentasi sempat membuat Rosianna gemas dengan materi yang dibawakannya. "Saya sempat takut dan sangat tegang berada di depan ketika materi saya dikritisi abis-abisan oleh Mba Rosi. Ternyata beliau orang yang sangat concern pada batik," ungkap mahasiswa kelahiran 9 Agustus 1991 ini. Namun, di balik rasa takutnya itu, Rendi juga mengaku sedikit lega ketika cara membawakan presentasinya dipuji menjadi yang terbaik oleh mantan presenter acara Liputan 6 tersebut. Menurut Rosianna, presentasi yang dilakukan Rendi sangat baik dengan gestur, intonasi suara, dan cara penyampaian yang sempurna. "Di balik ketegangan saat presentasi tadi, saya juga senang karena presentasi saya dipuji Mba Rosi dengan menyebut presentasi saya yang terbaik dan itu sedikit membuat saya tenang," kata mahasiswa yang hobi main futsal dan jalan-jalan ini. Pada kesempatan ini Rosi juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki banyak warisan budaya dalam bentuk kain yang juga harus diselamatkan misalnya songket dan tenun – seperti yang dipakainya, tenun dari Nusa Tenggara Timur.
Share :