Melatih Pikir Rasa Laku

Senin, 4 Maret 2013 | Oleh
Share :
Setelah sukses menjadi finalis Lomba Karya Tulis 2011/2012, Beswan Djarum berkesempatan menerima pelatihan selama lima hari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Jogjakarta. Pikir, Rasa, dan Laku menjadi tiga kata tak terpisahkan bagi mereka. Pasalnya, tiga hal tersebutlah yang mereka terapkan sejak bangun tidur sampai mereka kembali tidur. Diawali bangun pagi, ketika semua penghuni PSBK membersihkan ruangan dalam dan luar. Ada yang mengikuti, ada yang bingung mau berbuat apa, bahkan ada yang menertawakan. Semua itu tergantung dari pikir, rasa, dan laku yang dimiliki. Contoh lain adalah ketika para peserta diberi petunjuk untuk melakoni pertunjukaan seni mengenai sebuah tempat. Sebetulnya, semua kelompok mendapat petunjuk yang sama. Tapi tiap kelompok punya presentasi yang beda. "Ada yang memperagakan sanggar tari sampai tempat latihan militer. Itu membuktikan kalau pikir, rasa, dan laku tiap orang berbeda," papar Nunung. Ada lagi ketika para peserta diminta untuk menyampaikan sebuah pesan melalui kombinasi suara, gerakan tubuh, dan gambar. Ada yang mempresentasikan dengan gambar sawah, tapi ada juga yang mempresentasikannya dengan kuburan. "Antara piker, rasa dan laku bisa berbeda pada tiap orang. Pertama mengolah tubuh. Setelah mengolah tubuh bisa tahu akan bergerak seperti apa. Lalu diberi rasa yang didapat berdasarkan pengalaman,” kata Nunung Deni Puspitasari selaku salah satu pemateri workshop. Demikian pula dalam permainan Kartu Gerak. Setiap kelompok mendapat petunjuk gerakan dasar yang sama. Tugasnya adalah membuat sebuah seni dari gerakan dasar tersebut. Hasilnya, tiap kelompok punya aksi panggung yang beda. Ada yang menitikberatkan pada suara dan musik. Ada yang lebih ke arah gerakan dan seni tari. Semua itu memperkuat fakta kalau rasa yang dimiliki tiap orang berbeda. "Yang jelas semuanya benar. Tak ada yang salah," imbuh Nunung.  
Share :