Masih ingat dengan film Laskar Pelangi? Film garapan Miles Production ini tidak hanya menceritakan tekad sekelompok anak untuk terus menuntut ilmu, tapi juga membuka mata masyarakat Indonesia tentang keindahan alam Bangka Belitung. Sayangnya, di balik keindahan tersebut, ternyata ada kondisi yang menyedihkan.
Bangka Belitung memiliki kekayaan tambang yang melimpah. Di samping memberikan dampak postif, kekayaan alam tersebut juga memiliki dampak negatif akibat penambangan inkonvensional yang marak dilakukan. Cara ini tidak peduli terhadap dampak kerusakan lingkungan akibat adanya air asam sisa penambangan.
Untuk mengatasi masalah ini, Vionita Rizqa Permana (Institut Teknologi Bandung) menyarankan pemanfaatan bakteri pereduksi sulfat. Dipilihnya bakteri pereduksi sulfat karena keberadaannya yang mudah ditemukan seperti di sawah, rawa, dan tempat-tempat lainnya.
Pemanfaatan bakteri ini dapat membuat asam menjadi netral dan dapat mengendapkan logam berat yang bahaya bagi kesehatan. Dengan netralnya kadar asam, kondisi lingkungan pun bisa menjadi normal dan dapat ditumbuhi tanaman serta baik bagi kehidupan.
Ditekankan oleh Vionita bahwa karya tulisnya ini merupakan upaya untuk memperbaiki lahan yang telah terpolusi dan ditinggalkan oleh penambang (tidak produktif). Walaupun letak tambang cukup jauh dari tempat tinggal masyarakat, tapi jika dibiarkan berlarut, kondisi ini bisa menimbulkan kerugian pada masyarakat.
Presentasi yang dilakukan oleh Vionita mendapat pujian dari juri. Menurut Rosianna Silalahi, Vionita mampu menyajikan sesuatu yang berat dengan cara yang sederhana.