Munculkan Jiwa Kepemimpinan dan Toleransi melalui Blind Man Walking

Senin, 20 Januari 2014 | Oleh
Share :

Tidak semua orang dapat memimpin dirinya maupun orang lain dengan baik. Blind Man Walking menjadi salah satu alternatif permainan yang mengajarkan kita soal kepemimpinan. Mengharuskan kita berada dalam posisi dipimpin ataupun memimpin. Permainan ini terbilang sulit karena membutuhkan strategi khusus dalam alur komunikasinya. Setiap anggota regu akan berpasang-pasangan dan menentukan siapa yang akan menjadi orang yang ditutup matanya ataupun memandu terlebih dahulu. Ada 3 tali yang membatasi mereka yaitu tali hijau, biru, dan kuning. Setiap pasangan harus melewati area itu tanpa boleh menyentuh tali. Kesulitan lainnya adalah ketika ketiga orang yang ditutup matanya itu bertemu di titik yang sama. Salah satu dari mereka harus menunggu dan bertoleransi untuk membiarkan anggota lainnya lewat terlebih dahulu. "Waktu memandu itu kelompok saya punya strategi khusus. Awalnya kami gunakan bahasa Indonesia dan mengandalkan kepekaan suara saja. Namun kenyataannya kami berkali-kali mengulang.

Akhirnya kami sepakat memilih pasangan yang berasal dari daerah sama. Komunikasi yang kami pakai jadi lebih mudah jika menggunakan bahasa daerah masing-masing." ujar Zeanita (Beswan Djarum asal Universitas Diponegoro) Meski masalah komunikasi dan kepemimpinan bukan jadi penghalang lagi bagi Zeanita dan regunya, namun kemampuan menyamakan persepsi yang justru jadi kendala. "Harus pandai menyamakan persepsi dahulu. Terkadang kita asyik memimpin tapi yang kita pimpin tidak punya batas ukuran dan pemahaman yang sama tentang perintah kita", tambahnya.

Share :