Sembilan puluh empat Beswan Djarum dari berbagai kampus usai sudah mengikuti kegiatan Outbound- Achievement Motivation Training batch I tanggal 15-16 Januari 2010 di Cikole, Kabupaten Bandung. Selama dua hari mereka mengikuti pelatihan dengan high impact seperti flying fox, human jump, sky run, Turun Tebing, serta Jembatan Tali 2 dan permainan kerjasama tim lainnya selain paint ball antara lain adalah spider web, water bridge, trust fall, blind man walking, folding carpet dan lain-lainnya.
Dalam kegiatan ini mahasiswa diajak mengenal dirinya sendiri lewat pelatihan high impact. Disebut high impact karena disitu, keberanian, kepercayaan dan motivasi diri para peserta menjadi target kegiatan. Sementara pada permainan berupa kerjasama team, sisi kesadaran akan pentingnya kerja team dan hal-hal penting dalam kerja team, diperkenalkan kepada para peserta. Kedua pelatihan ini penting untuk semakin menguatkan kemampuan akademik para Beswan Djarum.
Rudy Djauhari selaku salah satu pembina dalam program beasiswa Djarum kepada pers mengatakan bahwa bekal akademik saja tidak cukup bagi seorang penerima beasiswa untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat. Kemampuan berpikir dan mengambil keputusan, sudah seharusnya diberikan, yang bahkan jauh sebelum mahasiswa mendapatkan pendidikan atau pelatihan tentang kepemimpinan (leadership skills). "Soal kepercayaan diri dan kerjasama tim itu memang hanya bidang nonakademik atau soft skills saja, tetapi keduanya tidak bisa dipupuk hanya lewat diskusi dan teori-teori, harus langsung digodok di lapangan dalam bentuk simulasi permasalahan dan kondisi yang real seperti di hutan," ujarnya. "Begitu kepercayaan dirinya timbul dan motivasinya bangkit, mereka kami ajak untuk bisa mengenal orang lain, dekat dengan orang lain, dan bekerjasama dengan orang lain untuk sebuah tujuan," imbuhnya. Permainan yang nampak sederhana seperti spider web, misalnya, didalamnya team harus bekerjasama untuk menyeberangkan semua anggotanya melalui lubang-lubang tali berbentuk sarang laba-laba itu adalah satu hal yang sederhana dengan tingkat kesulitan yang tidak terlalu sulit. Tetapi, ketika hanya lantaran anggota badan salah satu peserta tim menyentuh tali jaring, otomatis anggota tersebut gagal atau istilahnya "mati". Poin pun hilang satu. "Cuma butuh kekompakan dan ketelitian bersama-sama untuk membuat semua anggota tim orang bisa menyeberang dengan aman. Output-nya, permainan ini dengan sendirinya akan menyaring orang yang tepat pada posisi yang tepat pula," ujarnya.
Lain lagi dengan permainan paint ball, sebagaimana diakui Deborah, Beswan Djarum asal Universitas Maranatha, Bandung, ”Permainan itu justru mengajarkan banyak hal untuk diri dan teman-teman.” Ia melihat permainan ini membuat satu sama lain itu harus saling dukung. "Ada teman yang posisinya menjadi pembuat strategi, ada yang jadi penyergap, ada yang tugasnya melindungi penyergap dan sebagainya, dan harus selalu dalam satu koordinasi untuk bisa mengalahkan lawan. Ini menyenangkan tentunya," ucapnya. Dari sini ia belajar memahami pendapat orang lain untuk mencari keputusan bersama, karena semuanya untuk kepentingan bersama dengan risiko yang akan ditanggung bersama.
Sementara itu, Dion Aris dari jurusan Matematika angkatan 2007 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya memiliki kesan tersendiri. Aris mengatakan, sebelum mengikuti pelatihan ini, dirinya sedang mengalami satu permasalahan pelik yang belum tertuntaskan. Dia mengaku pusing, karena Olimpiade Matematika Nasional tingkat SMA yang ditanganinya dengan jabatan ketua panitia itu mandeg. Banyak persoalan yang tidak bisa ia selesaikan. "Dengan ikut ini saya kembali bersemangat, banyak pencerahan yang membuat saya berani mengambil satu tindakan atau keputusan yang selama ini tidak saya lakukan," ujarnya.
Sependapat dengan Aris, peserta lain Chairina dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) mengatakan, pelatihan semacam ini menjadi sangat berharga ketika seorang mahasiswa telah terbuai untuk hanya terfokus pada tujuan akademik saja. Sementara umumnya, banyak lulusan perguruan tinggi itu menjadi merasa gagal karena ternyata tidak bisa memanfaatkan potensi dirinya sendiri akibat terlalu bergantung pada nilai-nilai akademik itu. "Di sini kita dipaksa untuk mengalahkan rasa takut, berani mengungkapkan pendapat disertai keberanian untuk mempertanggungjawabkan pendapat dan risikonya. Itu tidak akan kita dapatkan di bangku kuliah, dari buku dan dosen," ujarnya.
Gelaran Outbound batch I telah usai digelar, batch II di 12-13 Februari dan batch III di 19-20 Februari 2010 menanti. Ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi 450 mahasiswa dari 71 perguruan tinggi negeri dan swasta yang menjadi Beswan Djarum Tahun Angkatan 2009/2010.
(Sumber: kompas.com, pikiran Rakyat.com)