Pengundian merupakan cara unik yang ada diterapkan guna mendapatkan peserta yang akan mempresentasikan karya tulisnya. Sebagai pembuka dewan juri mengundi acak kertas dalam wadah yang berisi nama kesepuluh peserta. Nama keluar sebagai penampil pertama yakni Yunita S Mardhiyah asal IPB dengan judul paper-nya Potensi Manggulu (Pangan Tradisional Khas Sumba) sebagai Pangan Fungsional. Manggulu adalah sebuah makanan tradisional berupa dodol terbuat dari pisang kepok matang kemudian dikeringkan dan dicampur dengan kacang tanah dan setelah matang dibungkus dengan daun pisang kering.
Yunita tertarik mengambil judul tersebut pasalnya saat ini kian banyak makan instan yang bermunculan, menurutnya makan tersebut terkadang mengabaikan faktor kesehatan. Karena banyak diantara makan itu mengandung pengawet dan tidak jarang pula terbuat dari bahan berbahaya akibat adnya globalisasi. Menurut Yunita keberadaan makanan khas seperti Manggulu dapat dijadikan potensi baik guna melengkapi varian jajanan tradisional yang ada di Indonesia.
Selanjutnya penampil kedua berasal darti Universita Sriwijaya yakni Ahmad Fikri, ia mengambil judul kaya tulisnya, Potensi Biji Tanaman Kelor Sebagai Koagulan Untuk Menjernihkan Air Rawa Menjadi Siap Minum. Menurut hasil penulisan paper-nya, biji daun kelor mampu diolah untuk menjernihkan air rawa sehingga layak untuk dikonsumsi. Tetapi hal ini masih berbenturan dengan proses pembudidayaan biji daun kelor tersebut, sementara untuk memnuhi kebutuhan penjernihan jelas harus dipertimbangkan budidaya biji tanaman kelor agar dapat terus memenuhi pasokan.
Perjalan peserta pertama dan kedua ini tak hanya tergambar dari judul yang mereka pilih, namun ketegangan sesi awal tak hanya dialami oleh Yunita dan Fikri, tetapi juga terlihat di wajah peserta lain yang belum tampil. Terbukti dari heningnya salah satu ruang rapat di kantor Head Quarter PT Djarum, Jakarta tersebut. Namun berkat berbagai pengalaman soft skill yang diperoleh selama menjadi Beswan Djarum, hal seperti ini bukanlah masalah berarti dan kedua peserta "korban" undi ini mampu melewati kesempatan presentasi dengan bijak dan tepat waktu.[Nus/Redaksi]