RTC Gorontalo, Belajar Menciptakan Brand Diri

Kamis, 31 Mei 2012 | Oleh
Share :
Karakter adalah brand dari setiap individu. Brand yang positif bisa dijual untuk pengembangan diri dan dapat berdampak bagi banyak orang. Namun, banyak orang masih kesulitan dalam menemukan brand tersebut. Inilah yang ingin ditransfer oleh Marthen Sumual, pemateri RTC Personal Branding di Gorontalo (14/5)."Pada dasarnya, Personal Branding hadir untuk menstimulus peserta bagaimana mereka dapat mengeksplorasi diri menjadi pribadi yang lebih baik dan menemukan karakter mereka, sebab karakter itu adalah brand mereka," ungkap Marthen Sumual. Pengenalan diri dan penemuan karakter para peserta dilakukan melalui metode yang bisa dicerna secara ringan oleh peserta. Lewat saluran many ways communication RTC Personal Branding semakin hidup dan bewarna. Di sini seluruh peserta tidak hanya mendengarkan namun juga diajak bergerak dan menjadi pembicara pada setiap sesi sehingga mereka turut aktif selama seminar dan workshop Personal Branding berlangsung. "Metode yang kita pakai mengajak peserta berbicara, saling berdiskusi, sehingga mereka banyak terlibat dalam setiap sesi," tambahnya. Hal menarik yang tidak dijumpai di kota-kota lain sejauh ini dari peserta RTC Gorontalo adalah semangat para peserta untuk terus menggali dan menunjukkan penampilan terbaiknya. Menurut Marthen Sumual, para peserta RTC di Gorontalo jauh berbeda dari peserta di kota lain. Mereka lebih berani untuk speak up dan tidak segan-segan untuk berbicara menuangkan pendapat mereka selama acara berlangsung. Hal ini juga terlihat ketika pemateri memberikan satu pertanyaan, begitu banyak peserta yang mengacungkan tangan untuk memberi tanggapan dan jawaban. "Mereka sangat percaya diri ketika berbicara, berani berpendapat, dan sangat antusias. Saya sampai bingung memilih siapa yang akan berbicara karena banyak yang ingin menyampaikan idenya, sangat aktif," jelasnya. Lewat RTC Personal Branding, pemateri yang juga motivation Consultant Top Concept tersebut berharap agar setiap peserta di Gorontalo mampu act locally but think globally. Hal ini terkait dengan suasana kehidupan Gorontalo yang kental dengan nilai-nilai adat istiadat dan berpegang pada ajaran kitab suci Al-Quran. "Mereka harus bisa lebih berpikir global namun tidak melupakan nilai-nilai kehidupan lokal mereka. Ketika mereka pulang mereka harus bisa menyadari hal-hal positif yang mereka miliki dan mengurangi hal-hal negatif yang telah mereka sadari. Do not focus on your weakness but focus on your strenght,: pungkasnya.(Irwan/Redaksi)
Share :