Tarian Jawa di Presentasi Ari Setiawan

Jumat, 5 Oktober 2012 | Oleh
Share :

Unik adalah satu kata yang merangkum cara penyampaian gagasan Ari Setiawan. Alunan musik tradisional Jawa mengiringi ilustrasi wayang pada awal sesi presentasinya. Seluruh penonton sontak riuh bertepuk tangan. Beswan Djarum yang memang menaruh perhatian lebih pada kesenian Ludruk ini lantas melanjutkan presentasi tersebut dengan membacakan pantun dan nyanyian dalam bahasa Jawa. Aksi Ari tersebut, menyuratkan arti bahwa ia mengajak semua orang untuk mencintai budaya Indonesia.

Presentasi-pun berlanjut. Kali ini, Ari coba menyuguhkan sebuah film pendek yang dibuat bersama rekan-rekan kampusnya. Film ini bercerita tentang seorang penari yang berjalan mengelilingi jalanan sepi dan berhenti di setiap tanah lapang yang ditemui untuk menari seorang diri.

"Gadis ini sebenarnya sedang mencari sosok yang bisa menggantikan ibunya yang menjadi penari Jawa. Setiap hari dia berkeliling jalan dan menari namun tidak satupun orang yang meliriknya. Mungkin ini juga yang terjadi dengan kebudayaan Indonesia yang semakin lama semakin terlupakan masyarakat," papar mahasiswa Jurusan Antropologi Universitas Airlangga ini.

Menyadari budaya asing yang tumbuh semakin subur secara sporadis di Indonesia akhir-akhir ini, seperti K-pop, Ari berusaha menggugah kesadaran masyarakat untuk lebih mencintai kebudayaan sendiri.

"Saya punya konsep Ethnography Moving Museum (EMM). Gagasan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta generasi kita terhadap budaya." Ungkap Ari lugas.  Jika pada umumnya bus mengangkut penumpang, lain halnya dengan bus yang digagas oleh Ari. Bus gagasan Ari ini akan berkeliling, lengkap dengan replika benda-benda bersejarah yang ada di museum. Sehingga masyarakat menjadi tertarik untuk mengunjungi museum dan  mengetahui lebih jauh secara langsung kebudayaan Indonesia.

Share :