Indra Rudiansyah (Institut Teknologi Bandung/ITB), Ihsan Nur Iman Faris (Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), dan Vionita Rizqa Permana (ITB) boleh bernapas lega. Ketiganya sudah dipastikan mendapat tempat untuk menjadi wakil Bandung di Final Nasional Writing Competition yang akan berlangsung di Jakarta, 18-19 Oktober mendatang.
Jeda waktu bagi Indra, Ihsan, dan Vionita untuk menyempurnakan karya tulisnya terhitung cukup singkat, yakni hanya tiga hari. Indra yang mengangkat solusi seputar kit warna sebagai pendeteksi tingkat kerentanan karies gigi pada anak, harus memutar otak untuk mempertegas permasalahan mendasar topik tersebut.
"Walau berhasil menang, sebenarnya karya tulis saya punya kekurangan. Salah satunya seperti yang ditanyakan Pak Sundani tentang faktor mahalnya produk ini dan perihal nama untuk produknya," jelas Indra.
"Tiga hari ke depan, saya juga akan memperbaiki cara presentasi yang tadi mungkin kurang lancar. Udah gitu, saya juga mau memperbaiki masalah di poin-poin orangtua dan anak. Jadi, ini tuh mau membahas kerentanan apa dan membentuk perilaku seperti apa?" tambah Indra.
Indra juga tidak mau tenggelam dalam ketatnya waktu. "Ya, waktunya memang mepet, tapi dikejarlah biar Beswan Djarum Bandung bisa menang di tingkat nasional. Pengennya saya bisa dapet bimbingan dari semua dewan juri. Soalnya tiap dewan juri memberi masukan yang berbeda," katanya bersemangat.
Ihsan, finalis terpilih lain yang mengangkat tentang upaya pelestarian bahasa Sunda melalui permainan scrabble Bahasa Sunda, juga mengaku akan memanfaatkan sisa waktu tiga hari ini dengan maksimal. “Persiapannya, ya, mungkin banyak-banyak baca buku, nanya ke dosen, temen-temen yang lebih menguasai bidangnya dan berdoa juga,” ujar Ihsan.
"Mungkin poin yang akan saya perhatikan kembali adalah poin kelengkapan data mengenai sejauh mana scrabble ini sudah dimainkan oleh orang Sunda itu sendiri," katanya menambahkan.
Satu-satunya wanita yang menjadi pemenang, Vionita, juga menyatakan kesiapannya. Wanita mungil yang mengangkat karya tulis seputar penggunaan bakteri pereduksi sulfat untuk bioremediasi acid rock drainage sebagai kasus permasalahan lingkungan tambang inkonvensional memang bertekad untuk menggali materi tulisannya lebih dalam.
“Pokoknya, kelemahan saya itu saya harus belajar lebih lanjut tentang pertambangan. Yang kedua, saya harus bikin detail seandainya karya tulis saya diaplikasi baik dari segi harga, dampak sosial, atau siapa saja yang benar-benar terlibat dan bentuk nyatanya nanti seperti apa. Ya, mungkin saya harus bekerja keras dalam hal itu. Yang jelas, saya harus mencari tahu lagi aplikasi riil dari karya tulis saya. Jadi, mengenai instalasinya dan bagaimana lebih riilnya harus saya pelajari lagi,” kata Vionita penuh semangat.