Writing Competition: Dari Mahasiswa untuk Bangsa

Jumat, 5 Oktober 2012 | Oleh
Share :

Writing Competition kembali digelar di empat wilayah: Surabaya, Semarang, Jakarta, dan Bandung. Kompetisi yang dulu bernama Lomba Karya Tulis ini bertujuan mengasah dan melatih kemampuan Beswan Djarum agar terbiasa menuangkan ide atau gagasan dalam karya tulis. Karya-karya yang dihasilkan diharap bisa menjadi solusi dan menjawab persoalan bangsa yang sedang atau akan dihadapi di masa datang.

M. Luqmanul Hakim, contohnya. Beswan Djarum asal Institut Teknologi Surabaya ini memiliki keinginan agar pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia bisa merasakan pasokan listrik yang memadai. Untuk itu, ia menuliskan ide yang ada dalam pemikirannya menjadi karya tulis yang berjudul "Floater Power (Flaoting Breakwater Power Plan): Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut pada Breakwater Apung Berbasis Perlindungan Pantai di Kepulauan Halmahera Timur."

"Saya awalnya berpikir bagaimana caranya daerah-daerah yang belum memiliki pasokan listrik memadai itu bisa mendapatkan listrik seperti di pulau-pulau besar. Saya lalu coba menuangkan ide saya ke dalam karya tulis tentang pembangkit listrik berbasis tenaga arus laut yang mengubah arus laut menjadi arus listrik. Untuk daerah, saya coba mengambil pantai di daerah Halmahera Timur, karena gelombangnya besar," ungkap mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan ini.

Membuat karya yang bisa berguna bagi Indonesia juga menjadi tujuan Koni Ariyadi, peserta Final Writing Competition Regional Surabaya dari Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Dia membuat karya tentang pemberantasan buta hukum pada masyarakat Indonesia melalui "Kalender Keadilan".  "Ide ini muncul ketika di beberapa desa di Banjarmasin seperti Desa Ringgo banyak masyarakatnya yang tidak mengenal hukum dan ini sangat memprihatinkan. Untuk itu, saya menciptakan kalender keadilan ini untuk memberi pengetahuan dan kesadaran hukum bagi masyarakat," ungkap satu-satunya peserta yang datang dari Kalimantan.

"Saya sudah berpikir untuk mencetak kalender ini dan dibagikan ke seluruh masyarakat Indonesia dengan menghabiskan biaya sebesar Rp297 miliar, maka setiap orang di Indonesia bisa memasang kalender ini di rumah masing-masing," ungkap Koni  yang saat presentasi memberikan tiga kalender untuk dewan juri.

Seperti diungkapkan salah satu dewan juri Final Writing Competition Regional Surabaya, Drs. Bandung Arry Sanjoyo, Writing Competition ini menjadi ajang pencarian ide atau gagasan orisinal dari mahasiswa yang mungkin bisa menjadi solusi buat permasalahan bangsa. "Seperti karya Arief Akbar yang mencarikan solusi untuk para Tenaga Kerja Indonesia dengan ide Bahagia TKI yang merupakan sebuah terobosan baru untuk Indonesia."

Writing Competition memang menjadi ajang bagi Beswan Djarum untuk mempresentasikan ide orisinal mereka dalam karya tulis. Tiga terbaik akan ditentukan oleh dewan juri di masing-masing wilayah sebelum nantinya mereka akan bertemu di babak final yang akan berlangsung di Jakarta. Menarik untuk ditunggu, ide dan pemikiran siapa yang nanti akan terpilih menjadi yang terbaik.

Share :